8 Prosedur Membaca Puisi yang Perlu Dipahami

Puisi, ketika dibacakan di pentas, tentu diharapkan akan mendapatkan perhatian dari penonton. Kita sering melihat bagaimana puisi yang dibacakan oleh seseorang begitu mengagumkan, dan seperti menyedot semua perhatian penontonnya. Namun ketika puisi yang sama dibacakan oleh orang lain, reaksi penontonnya seperti biasa saja.

Kali ini kita akan mengajak kalian untuk belajar memahami prosedur yang perlu diperhatikan ketika kalian membaca puisi. Dengan menerapkan prosedur-prosedur ini, nantinya kalian dapat lebih ekspresif ketika membacakan puisi.

(1) Memahami prinsip-prinsip dalam membaca puisi

Pada prinsipnya, puisi dibaca dengan 2 cara, yaitu di baca dengan hati, atau dibaca dengan bersuara keras. Nah untuk membaca puisi dengan bersuara keras, kalian harus tahu teknik-tekniknya. Dalam kesempatan ini, kalian dapat menggunakan Puisi “Aku” karangan Chairil Anwar, seorang sastrawan terkenal dan melegenda. Bahkan mungkin sudah pernah tahu siapa itu Chairil Anwar dengan puisi “Aku” nya?

Baca dan pahamilah puisi berikut dengan saksama. Selanjutnya kalian akan mempelajari teknik pembacaaan puisi yang benar itu. Cobalah untuk
memahami isi sajak tersebut!

Aku

Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini hewan jalang
ri kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang-menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Ada beberapa prinsip yang perlu kalian ketahui terkait dengan pembacaan puisi. Prinsip tersebut adalah (1) Volume Suara, (2) Artikulasi, (3) Intonasi, (4) Gerak Tubuh, (5) Mimik, dan (6) Pandangan Mata

Mari kita pelajari satu-persatu.

1. Volume Suara
Kalian tentunya harus membaca puisi dengan sekeras mungkin, sehingga bisa menjangkau ke banyak pendengar. Volume suara, dalam hal ini berarti tingkat atau derajat keras atau lemahnya suara yang digunakan dalam pembacaan puisi.

2. Artikulasi
Pembacaan puisi harus dilakukan dengan artikulasi yang jelas. Artikulasi di sini berarti pengucapan kata demi kata dengan benar serta dengan
suara yang jelas.

3. Intonasi
Puisi yang dibacakan dengan intonasi yang baik, akan memberikan kesan bagi yang mendengarkan; seperti terbawa menjadi bagian dari puisi itu sendiri. Intonasi di sini berarti lagu membaca. Ia meliputi penggalan kata, serta tinggi-rendahnya suara pada saat kalian membaca bait demi bait puisi.

4. Gerak Tubuh
Agar lebih menarik pendengarnya, kalian harus mempunyai gerak tubuh yang menarik perhatian. Gerak tubuh di sini artinya meliputi gerakan seluruh anggota tubuh: kaki, tangan, badan, dan kepala sesuai dengan isi sajak yang dibaca.

5. Mimik
Kalian juga tentu dapat membuat puisi yang kalian bacakan itu menjadi menarik, yaitu dengan menunjukkan mimik kalian. Mimik di sini berarti sebuah ekspresi atau perubahan raut wajah, menyesuaikan karakteristik dan
suasana yang digambarkan pada puisi yang dibaca. Suasana yang dimaksud adalah sedih, semangat, atau gembira; dapat kalian coba tampilkan, sesuai isi puisi yang kalian bacakan.

6. Pandangan mata
Untuk lebih dapat melibatkan perasaan dan perhatian dari penontonnya, pembaca puisi harus menjangkau ke pandangan mata sebanyak mungkin. Pandangan mata adalah arah mata memandang, yang seharusnya ditujukan
ke segala penjuru tempat penonton berada.

Diskusikanlah prinsip tersebut dengan teman-teman kalian. Setelah itu,
praktikkanlah untuk membaca sajak yang berjudul “Aku”.

(2) Memahami pengertian ‘Membaca Ekspresif ‘

Semua prinsip yang dibahas sebelumnya itu berguna untuk membaca puisi secara ekspresif. Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan membaca ekspresif itu? Istilah ekspresif di sini diperoleh dari fungsi bahasa secara umum, sebagaimana keterangan berikut.

Fungsi utama dari suatu bahasa itu ada 4, yakni fungsi ekspresif, fungsi deskriptif, fungsi sosial, dan fungsi tekstual (Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics, 4th ed., 2010: 236).

1. Fungsi ekspresif
Yakni fungsi bahasa dalam hal penggunaannya untuk menampilkan hal-hal yang terkait dengan diri pembicara atau penulis, yang meliputi pikiran, perasaan, pengalaman, dan pilihan, serta prasangkanya.

2. Fungsi deskriptif
Fungsi ini berkaitan dengan fungsi bahasa dalam hal menyampaikan informasi faktual. Fungsi deskriptif bisa juga disebut sebagai fungsi ideasional, yakni fungsi bahasa untuk menyampaikan ide.

3. Fungsi sosial
Bahasa juga berfungsi sebagai alat untuk berinteraksi, menjalin dan memapankan hubungan sosial. Istilah lain dari fungsi sosial ini adalah fungsi interpersonal.

4. Fungsi tekstual
Yakni fungsi bahasa yang terkait dengan cara penciptaan teks, baik lisan maupun tulis, yang runtut dan sesuai dengan konteks.

Nah, sekarang adalah pengertian membaca ekspresif itu sendiri. Mari kita bahas.

Membaca ekspresif adalah membaca dengan mengekspresikan pikiran, perasaan, dan pengalaman penulis, meskipun pembacanya adalah bukan penulisnya itu sendiri. Pada umumnya kegiatan membaca ekspresif dilakukan dengan suara yang keras; juga dilakukan dengan gaya atau penampilan sesuai dengan isi materi yang dibacakan. Dengan demikian, membaca ekspresif dapat dikatakan sebagai membaca dengan penuh penghayatan.

Mengingat kegiatan membaca ekspresif dilakukan dengan suara keras, kegiatan membaca seperti ini sejalan dengan membaca teks secara lisan, yang berlawanan dengan membaca teks dalam hati.

(3) Membacakan puisi dengan ekspresif

Setelah dipahami bahwa membaca ekspresif ternyata sangat cocok diterapkan dalam membaca puisi. Cobalah kalian baca puisi “Aku” tersebut secara ekspresif disertai penghayatan yang sungguh-sungguh.

(4) Memahami teknik pembacaann puisi yang benar
Beberapa teknik berikut adalah teknik pembacaan puisi yang harus kalian cermati dan praktikkan agar pembacaan puisi kalian lebih ekspresif.

Teknik membaca puisi di atas pentas

  1. Kenakan pakaian yang rapi, nyaman namun sesuai dengan isi puisi yang akan kalian bacakan. Berpakaianlah sewajarnya namun dapat menarik perhatian, sehingga mendukung isi puisi yang dibacakan.
  2. Berdiri tegak, tenang dan percaya diri di atas pentas.
  3. Kuasailah pentas! Arahkan pandangan kalian ke segala penjuru penonton, memberikan hormat sedikit membungkukkan badan dan menganggukkan kepala.
  4. Pahamilah isi puisi dan pesan di dalamnya, sehingga kalian lebih mudah menghayati puisi yang kalian bacakan.
  5. Gunakan artikulasi suara yang jelas, intonasi yang bagus, juga dengan suara yang keras namun pas.
  6. Mengatur napas menyesuaikan penggalan kata, larik, dan bait puisi tersebut.
  7. Fokus! Yakni memusatkan perhatian pada pembacaan puisi, mengendalikan diri agar tidak terpengaruh oleh penonton.

(5) Sering berlatihlah!

Praktikkanlah teknik di atas untuk membaca sajak yang berjudul “Aku” di depan kelas. Anggaplah bahwa posisi depan kelas itu sebagai pentas. Bacalah secara bergantian dengan teman-teman kalian, dan saling memberikan penilaian atau saran.

(6) Perbaiki teknik

Diskusikanlah dengan teman-teman kalian, sesuai penilaian tadi apakah ada teknik membaca puisi di atas yang perlu ditambah atau perbaiki, dan mengapa demikian.

(7) Gunakan teknik yang sesuai

Teknik membaca puisi itu bukan merupakan prosedur yang kaku yang setiap langkahnya harus ditempuh secara urut. Puisi dengan isi dan pesan yang berbeda menuntut teknik membaca yang berbeda pula. Diskusikanlah apakah teman-teman kalian juga berpendapat demikian.

(8) Mengevaluasi teknik yang digunakan

Mengingat teknik membaca puisi itu dapat diubah-ubah, buatlah teks prosedur kompleks yang bersifat protokol tentang hal yang sama menurut pendapat kalian sendiri. Bandingkanlah hasilnya dengan pekerjaan teman-teman kalian. Setelah itu, perbaiki lagi apabila dipandang perlu!

*Artikel ini disarikan dari “Bahasa Indonesia — Ekspresi Diri dan Akademik”, Edisi Revisi 2014,

Leave a Reply

Close Menu