14 Contoh Puisi di Twitter (September 2019)

Menulis puisi di media sosial, khususnya twitter, memiliki tantangan tersendiri. Cobalah kalian lakukan sendiri dan ikut merasakan tantangannya. Yang utama adalah tantangan terbatasnya karakter huruf yang disediakan untuk setiap kali twit.

Hal itu yang menyebabkan kita harus menyusunnya, bait demi bait, huruf demi huruf seefektif mungkin. Tentunya tanpa mengurangi kualitas dan keindahan puisi tersebut.

Berikut ini contoh beberapa puisi yang sudah ditulis oleh @ruangpuisi1 di twitter. Silakan disimak.

 

Kepergian (1)

Dalam pergi masih saja kau bikin iri
Senyummu seperti mengajakku
Membaca kembali apa yang kutulis
: tidak seberapa
Menelusuri kembali yang kulewati
: susah mencari arah

Ketika kau tahu akan pergi
Aku tak tahu akan kah kau kembali
Kabarkan lewat mimpi
Bahwa perpisahan itu abadi

 

Kepergian (2)

Setiap aku jumpa kepergian
Serasa kau berpamitan
Terngiang sunyi
Memecah kebisuan
Seperti gema di gua yang tua
Indah berima
Berirama tanpa aba-aba
Meski ku tahu itu semua
perlahan sirna

Namun ku tak bisa apa-apa
Hanya bisa memandangmu
Hanya jasadmu meninggalkan ku

 

Topeng

Ada sebuah topeng
Banyak topeng
Menari bersama
Tersenyum semua
Melotot seraya

Siang malam berputar
Mengitari halaman
Memasuki rumah-rumah
Ke kantor-kantor kalian
Menyusup ke tempat hiburan kelam
Pada topeng-topeng
Di baliknya air mata
Tumpahlah kepalsuan

 

Rindu (Namun Jauh)

Mungkinkah kau masih rindu
Pada pucuk cemara
Bercanda dengan anginnya
Pada pecah riak sungai
Mencumbu batu

Kupercaya kau masih simpan semua
Pada tiap lipatan bukumu
tiap kedipan matamu
tiap mimpi malammu
Percayakah kau bahwa
Aku akan jauh bersamamu
Namun lekat lah setiap doaku

 

Sebenarnya Salju

Aku pernah bertanya
Apakah dirimu sebenarnya salju
Ribuan musim membeku
Namun tak kau jawab
Tentu saja
Hingga akhirnya kau menangis
Ternyata kau punya air mata
Sejak itu kuyakin
Bahwa dirimu adalah air
Biar aku yang menjadi apinya
Melengkapi makna kehadiranmu

 

Seperti Pelangi

Kau sering bernyanyi selagi hujan
Semua boleh berubah, katamu
Semua akan pergi meninggalkanmu
Senjamu pun bisa jadi tak sama
Lagumu mungkin tak lagi merdu

Namun pelangi itu selalu kau rindu
Indah anggun di cakrawala
Hadir dengan warna yang sama
Setia abadi, seperti dirimu

 

Pertemuan (1)

Aku menunggumu di Kadıköy
Sebentar lagi kapalmu datang
Membawamu dari Eminönü
Ku keluarkan lembar Lira
Membayar kopi dan baklava
Karena senyummu sudah di depanku
Menjemputku lebih dulu
Kami bergegas pergi

Banyak yang akan kau ceritakan
Aku tahu itu
Tapi nanti saja

 

Move On

Sebaiknya kamu lekas move on
Berdamai dengan dirimu
Melangkah dengan sempurnamu
Memaknai kehadiranmu
Melengkapkan yang terlewati

Selayaknya semua terhapus
Terhempas dan hanyut
Tinggal waktu yang tetap bertahan

 

Pertemuan (2)

Kita bertemu di Karadeniz
Tidak sengaja di sebuah kafe kecil
Tepi Laut Hitam
Seberangan Bulgaria
Bibirku kaku tuk berkata
Panasnya siang itu mencekatku
Nasılsın?

Ben iyiyim teşekkür ederim. ya sen?
Ben de
Bulat matamu mempesona
Sayangnya ku harus segera pergi

 

Tetap di Sini

Kusimpan rapi namamu
Dalam tiap ruas buku
Biarlah pagi yang melukismu
Mentari hadirkan bayangmu
Lalu angin hantarkanmu pergi
Menasbihkah indahnya senja

Aku kan tetap di sini
Karena kutahu
Kau ada bersama embun
Di setiap beningnya pagi

 

Puisi Langit

Jika ada yang bertanya siapa aku
Katakanlah:
Semua kataku puisi
Syairnya datang dari langit
Baitnya seanggun Semeru
Bernasnya seputih kapuk randu

Lalu kau masih bertanya siapa aku?
Yakin lah:
Aku kan tetap menjadi puisi
Sampai malam menjemput pagi
Sampai kau pergi

 

Tirta

Malam sudah tinggi
Kau datang dari lembah
Menyusuri beribu sawah
Dikepung para anak bocah
Memandikanmu lumpur tanah

Tak lelah kau menuju kota
Membawa runtah
Bajumu basah
Anganmu resah
Orang-orang rajin menyampah

Kini kau sampai di kaki muara
Karena semua (pasti) ada akhirnya

 

Jangan Lupa

Ku ingin tuliskan sesuatu untukmu
Tentang malam kemarin yang kembali
Ingin rasanya kuingatkan dirimu
Jangan lupa pakai krim malam lagi
#puisimalam

 

Tak Semuanya

Kau bilang engkau haus
Lalu kusiapkan lah gelas
Kau tuang minum untukmu sendiri
Kalau kau masih sudi mendengarku
Selayaknya lah engkau ikhlas
Tidak semuanya harus kau miliki

Leave a Reply

Close Menu