Puisi Warisan

Tema puisi tentu bermacam-macam. Bahkan terkadang ada hal yang mungkin tidak umum dijadikan tema. Dalam artikel ini, kami kumpulkan 9 puisi dengan tema ‘Warisan’. Puisi ini merupakan karya dari mereka yang mengikuti ajang menulis puisi dari komunitas Kelaspuisi. Ajang tersebut digelar selama sebulan penuh di November 2019. Tema ‘Warisan’ ini adalah tema yang terakhir di 30 November. Selamat membaca!

Baca juga:

HUTAN MANGROVE DAN CINTA

https://www.instagram.com/dinimizani/

coba kau sibak, pokok-pokok bakau di hutan dalam dadamu.
tempat cinta berlumur, air laut melambat, lumpur-lumpur merambat.
kepiting dan udang hidup tenang.

di sana, akan kau temukan aku, dan cintaku yang tak akan surut.

sebab bukankah pantai, adalah tempat kau melabuh kenang kelak.

menemukan aku dalam cahaya, menemukan tanda-tanda cinta yang akan terus-menerus kau temukan selama rhizopora terus berbunga.

Di_30 November 2019

INTEGRAL
__________

https://www.instagram.com/jaesk_____/

Kupisahkan terlebih dahulu
benda-benda badaniah yang melekat
dalam bilangan-bilangan (yang kadang tak selalu terasa) merata

sebelum kalian memandikan aku
untuk membersihkan konstanta
yang tersembunyi di dalam tubuh

Kelak, jika jasadku telah kalian
kembalikan pada tempat ia dipinjam

nantikanlah sebuah kabar baik
yang takkan sampai ke muka pintumu
dari ruhku yang moksa,
diangkat pangkat menuju nirwana

__________
Kelas Matematika, 16.36

Jero Saras Krisna

Puisi – Kita Kata dan Kota-Kota

https://www.instagram.com/rayottid/
.
.
Memang sebagian dari kita
Terdiri dari kata-kata
Yang berjejer di antara
kota-kota

Genggaman tak bisa dibeli
dengan pulsa data
Tatapan mata tak seindah
jika berkontak lewat layar kaca
Canda-tawa lebih gurih
jika tak lewat alat pengeras suara

Tapi direnggang gedung-gedung
Mencipta ruang bagi semesta
untuk merumus doa-doa
bagi mereka yang tak mampu bersua raga

Kelak,
semoga lekas nyata.
.
.
Manado, 30 November 2019

Hanya ini

https://www.instagram.com/bagus_dwian/

Kemarilah kekasih,
Kita tanam tunas cinta dan pohon-pohon kasih,
Agar kelak nanti anak cucu kita tak lagi mengenal kata benci,
Tak lagi memaki kita yang hanya meninggalkan duka pada bumi manusia yang rapuh penuh lara,
Yang hanya berisi sampah-sampah dari pemikir egois negeri,
Yang lebih memilih mati muda dengan harta melimpah ruah tapi membunuh sesama,
Daripada menua dengan hidup penuh bahagia.
.
Suatu malam di 2019

PENGGALAN PENINGGALAN

https://www.instagram.com/racunfrasa/

Angan dan ingin mungkin dilahirkan dari rahim yang sama
Keduanya semacam peramal yang selalu bicara tentang masa depan
Terjadi atau tidakkah kita tunggullah mereka menua
Mati lalu dikuburkan sebadan di pusara yang sama
Sesuatu yang kemudian tumbuh di atas tanahnya
Itulah yang mesti kau sirami terus
Hingga kau paham
Kehidupan selalu butuh diperjuangkan

KITA TAK PERNAH MENANAM APAAPA

https://www.instagram.com/artdiantlazuardiii/
:Soe Hok Gie
.
Segala bukanlah kepunyaan kita
pun waktu yang kita habiskan dengan berbagai makna
tentang perasaan dan kesan telah kita tinggalkan pada sesama
perihal bungabunga yang kita bicarakan di beranda
.
Dan katakata yang tumpah
dari bibirmu menuju berbagai muara aksara
untuk menebar angkara atau menyembuhkan luka
.
Siapa yang tau, sayangku?
Apa yang sebenarnya kita tuju
dari perjalanan ruang dan waktu
Pun berbagai peninggalan
yang kita titipkan pada anak cucu
.
Mari sini, sayangku
Ijinkan aku malam ini barang sejenak
untuk tidur di pangkuan
Mengenang tentang apa
yang tak pernah kita tanam
sebelum kita pulang
.
Kotabumi, 30 November 2019

Carik Kata

https://www.instagram.com/dininrlmi/

Dalam secarik kertas
Kau menulis
Meyakinkan hari
Tulisan ini mengobati sepi

Tapi, susunan kata
Tidak bisa mengantar bahagia
Tidak juga mengibur lara .
.
.
Tak ada warisan yang lebih indah
Dari senyummu
Tak ada warisan yang lebih hangat
Dari dekapmu .
.
.
Aku mengantarmu pulang
Sebelum sore menguning
Walau raga sudah berjarak
Doa tidak berjarak

Taiwan, 30 November 2019

Menabung

https://www.instagram.com/rabakhir/
————————————————–
keping-keping koin yang puisi
dimasukkan ke dalam kepala ayam berwarna merah
oleh seorang anak – setiap hari di sore hari
selepas pulang sekolah
ㅤㅤ
di suatu hari di masa yang entah
kokok ayam membawa keping-keping puisi
kepada hati dalam buku yang bertuliskan
namamu – atau namaku – atau keduanya
tidak ada yang mampu memilih
ㅤㅤ
Jakarta, November 2019

TAMAN BUNGA

di langkahku yang sudah tidak dekat
aku canggung dan asing akan siapa aku
berkompromi untuk kontemplasi dan toleransi
dua makhluk bernama aku dan egoku

tiap hari berdebat
berebut masingmasing aku
aku dan egoku bersikeras siapa yang berhak atas aku

ketika kudapati pagi
aku menggunting bumi dan membungkusnya dengan langit sebelum egoku bangun
namun ketika sedang kuhitung lelahku
egoku memunguti satusatu malam dan bintang harta karunku

aku selalu membayangkan kami kelak ketika tiada
menjadi setaman bungabunga
tumbuh dalam diam berdampingan
lalu mereka datang membawa kami pulang
untuk dipajang di kamar hati keturunannya
.
.
(Nami island, 2017)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here