Kata Paling Sering Digunakan di Puisi

Tulisan ini sekaligus menjawab rasa penasaran kami, tentang kata apakah yang paling sering digunakan dalam puisi. Data yang ditampilkan adalah hasil dari eksperimen kami secara sederhana sehingga mungkin perlu disempurnakan.

Kami mengumpulkan sumber datanya yaitu berupa puisi-puisi yang ada di Instagram. Selanjutnya kami rapikan ke dalam text file, untuk selanjutnya kami olah menggunakan bahasa pemrograman Python.

Kami mengumpulkan sekitar 116 puisi yang bervariasi dalam hal jumlah katanya. Ada yang jumlah katanya cukup sedikit, juga ada yang banyak. dengan cara yang cukup sederhana, kami mencacah banyaknya kata di semua puisi tersebut. Program Phyton “membaca puisi” dari file teks dan mengelompokkan sesuai kata-katanya. Hasilnya lalu disimpan ke text file.

Berikut ini tahapannya.
(Peringatan: bagian tulisan di bawah ini bisa jadi terlalu teknis. Jika ingin melewati, silakan langsung ke bagian hasil)

Table of Contents

1. Menyunting Puisi dari Instagram

Hanya diperlukan sedikit ketekunan 🙂 yaitu mencari posting instagram yang captionnya adalah puisi. Kalian bisa mencobanya dengan menggunakan tagar tertentu, misalnya #puisi. Salinlah ke dalam aplikasi pengolah kata, misalnya Notepad, atau aplikasi yang sering kalian gunakan. Rapikan, dengan membuang bagian-bagian kata yang bukan merupakan pokok puisi.

Menyunting file teks puisi dari instagram
Contoh tampilan file teks

2. Mempersiapkan Program Python

Apakah harus Python? Jawabnya adalah tidak harus. Kalian bisa menggunakan bahasa pemrograman apa saja yang kalian bisa. Bahkan jika menggunakan Excel pun, kami yakin bisa didapatkan hasil yang sama.
Kebetulan sudah ada contoh programnya di geeksforgeeks.org

Di contoh kode sumber tersebut, hasil yang didapatkan kemudian ditampilkan di layar monitor, sehingga kami perlu menambahkan beberapa baris kode agar dapat menuliskan hasilnya ke dalam file teks.

Tampilan Source Code Python

3. Mengolah Data

Sebenarnya Python memiliki pustaka yang lengkap yang dapat digunakan untuk sekedar mengolah perhitungan data yang sederhana ini. Namun kami memilih cara lain yang cepat dan tidak perlu koding, yaitu dengan menggunakan Excel.

Hasil yang terdapat di file teks, sudah kami lengkapi karakter ‘|’ sebagai pemisah data. Sehingga tinggal kami olah di Excel dengan fungsi TextToColumns dan gunakan karakter pemisah (delimiter) tersebut. Kalian tentu cukup terbiasa dengan Excel bukan?

Selanjutnya data tersebut kami urutkan. Dari data yang diurutkan tersebut didapatkanlah kata apa yang paling sering digunakan di sample puisi tersebut.

4. Hasil Perhitungan

Kami telah mendapatkan hasil perhitungan berupa jumlah tiap kata dalam keseluruhan puisi, termasuk judul puisi. Dalam hal ini kami tidak membedakan jenis katanya (kata dasar, kata kerja, kata penghubung, atau lainnya). Selanjutnya kami hanya memilih 20 kata terbanyak penyusun puisi. Berikut ini adalah kata-kata tersebut:

  1. kau
  2. dan
  3. tak
  4. aku
  5. dalam
  6. dengan
  7. ada
  8. akan
  9. kita
  10. dari
  11. pada
  12. adalah
  13. itu
  14. ini
  15. hingga
  16. untuk
  17. menjadi
  18. hati
  19. atau
  20. ke

Dengan urutan dan jumlah katanya sebagaimana ditunjukkan di tabel berikut:

Kata Paling Sering digunakan Puisi
Tabel: Kata yang Paling Sering digunakan dalam Puisi

5. Kesimpulan

Ternyata kata ‘kau’ menempati urutan pertama. Kata tersebut paling sering digunakan dalam sekitar 7600 kata. Kami tidak begitu meyakini apakah telah terjadi perubahan tingkat kesukaan penggunaan kata dalam puisi, terutama di puisi kontemporer. Dulu, bahkan kata ‘Aku’ menjadi sebuah judul puisi yang sangat legendaris karya Chairil Anwar.

Dari hasil yang ditunjukkan tersebut, semoga dapat dijadikan ide bagi kalian yang ingin membuat puisi.

6. Puisi yang Digunakan

Berikut ini adalah puisi-puisi yang digunakan sebagai bahan perhitungan jumlah kata terbanyak.

 

bagus_dwian

Hanya ini

Kemarilah kekasih,

Kita tanam tunas cinta dan pohon-pohon kasih,

Agar kelak nanti anak cucu kita tak lagi mengenal kata benci,

Tak lagi memaki kita yang hanya meninggalkan duka pada bumi manusia yang rapuh penuh lara,

Yang hanya berisi sampah-sampah dari pemikir egois negeri,

Yang lebih memilih mati muda dengan harta melimpah ruah tapi membunuh sesama,

Daripada menua dengan hidup penuh bahagia.

.

Suatu malam di 2019

 

—–

bagus_dwian

Duka batuan cadas

.

Pada ngarai itu kutanggalkan cerita kelam. Tentang masa lalu yang perih tak berkesudahan. Tentang masa depan yang entah berani kujamah atau sekedar menerka lewat foto-foto yang menyisakan pahit.

.

Luka itu akan selamanya abadi. Tertanam kuat dalam hati. Entah sudah kesekian kalinya aku mencoba melangkah tapi tetap saja urung terbayang luka.

.

Luka kala melihatmu harus meregang nyawa di hapit batuan cadas yang tak berjiwa. Dengan mata kepala yang hanya diam dan pasrah.

.

Dalam malam di tengah sepinya kota, 2019

 

—–

racunfrasa

PENGGALAN PENINGGALAN

 

Angan dan ingin mungkin dilahirkan dari rahim yang sama

Keduanya semacam peramal yang selalu bicara tentang masa depan

Terjadi atau tidakkah kita tunggullah mereka menua

Mati lalu dikuburkan sebadan di pusara yang sama

Sesuatu yang kemudian tumbuh di atas tanahnya

Itulah yang mesti kau sirami terus

Hingga kau paham

Kehidupan selalu butuh diperjuangkan

 

—–

jaesk_____

INTEGRAL

__________

 

Kupisahkan terlebih dahulu

benda-benda badaniah yang melekat

dalam bilangan-bilangan (yang kadang tak selalu terasa) merata

 

sebelum kalian memandikan aku

untuk membersihkan konstanta

yang tersembunyi di dalam tubuh

 

Kelak, jika jasadku telah kalian

kembalikan pada tempat ia dipinjam

 

nantikanlah sebuah kabar baik

yang takkan sampai ke muka pintumu

dari ruhku yang moksa,

diangkat pangkat menuju nirwana

 

__________

Kelas Matematika, 16.36

 

—–

dinimizani

HUTAN MANGROVE DAN CINTA

 

coba kau sibak, pokok-pokok bakau di hutan dalam dadamu.

tempat cinta berlumur, air laut melambat, lumpur-lumpur merambat.

kepiting dan udang hidup tenang.

 

di sana, akan kau temukan aku, dan cintaku yang tak akan surut.

 

sebab bukankah pantai, adalah tempat kau melabuh kenang kelak.

 

menemukan aku dalam cahaya, menemukan tanda-tanda cinta yang akan terus-menerus kau temukan selama rhizopora terus berbunga.

 

Di_30 November 2019

 

—–

@artdiantlazuardiii

KITA TAK PERNAH MENANAM APAAPA

:Soe Hok Gie

.

Segala bukanlah kepunyaan kita

pun waktu yang kita habiskan dengan berbagai makna

tentang perasaan dan kesan telah kita tinggalkan pada sesama

perihal bungabunga yang kita bicarakan di beranda

.

Dan katakata yang tumpah

dari bibirmu menuju berbagai muara aksara

untuk menebar angkara atau menyembuhkan luka

.

Siapa yang tau, sayangku?

Apa yang sebenarnya kita tuju

dari perjalanan ruang dan waktu

Pun berbagai peninggalan

yang kita titipkan pada anak cucu

.

Mari sini, sayangku

Ijinkan aku malam ini barang sejenak

untuk tidur di pangkuan

Mengenang tentang apa

yang tak pernah kita tanam

sebelum kita pulang

.

Kotabumi, 30 November 2019

 

—–

@rayottid

Puisi – Kita Kata dan Kota-Kota

Memang sebagian dari kita

Terdiri dari kata-kata

Yang berjejer di antara

kota-kota

 

Genggaman tak bisa dibeli

dengan pulsa data

Tatapan mata tak seindah

jika berkontak lewat layar kaca

Canda-tawa lebih gurih

jika tak lewat alat pengeras suara

 

Tapi direnggang gedung-gedung

Mencipta ruang bagi semesta

untuk merumus doa-doa

bagi mereka yang tak mampu bersua raga

 

Kelak,

semoga lekas nyata.

Manado, 30 November 2019

 

—–

syams_x

Judul: Sudah Habis

By: Syams-X

.

“Kita dapat warisan, kan?” tanyamu.

Sudah habis jawabku

Warisan keramat yang bernama merdeka

Kakek dan ayah kita yang habis-habisan jaga

Habis betulan di telan jelaga perilaku

Dan mulut-mulut yang terpenjara dalam hiasan caci dan maki

 

Bandung, 30 November 2019

 

—–

rabakhir

Menabung

keping-keping koin yang puisi

dimasukkan ke dalam kepala ayam berwarna merah

oleh seorang anak – setiap hari di sore hari

selepas pulang sekolah

 

di suatu hari di masa yang entah

kokok ayam membawa keping-keping puisi

kepada hati dalam buku yang bertuliskan

namamu – atau namaku – atau keduanya

tidak ada yang mampu memilih

 

Jakarta, November 2019

 

—–

lembayungmerah88

PENERIMAAN

Aku terima

Semua

Tanpa tapi

 

Baik

Buruk

Tanpa aduh

 

Seluruh guratan

Menyeluruh sirat

Tanpa andai

 

Sesungguhnya

Apapun di dunia ini

Tersusun saling terikat

Terkait saling terwaris

 

Bandung, 30 November 2019

 

—–

teguh_maulana2018

Sir November

 

Angka kedua puluh lima telah lewat

Kenangannya usai masif

Tahun depan mungkin saja bisa beri selamat

Andai usia masih dikandung badan aktif

 

Torehan kecil ini dibuat sebagai pesan ajaib

Entah diterima atau tidak

Hanya hati yang mampu menjawab

Di dalam hati satu satunya sepihak.

 

Tidak ada kata telat

Bagi insan yang berbuat

November ini jadi alasan kuat

Agar hati mantap ingat

Kekasih gelap dalam taat

Meski terjebak sulit

Namun tidak ikut karut- marut.

 

Karanganyar,

Nov. 30, 2019

 

—–

sheleadart

Warisan

 

Warisan menjadi gemuruh

dibibir-bibir yang haus harta

 

 

—–

 

lestari_fa82

Sekedar Ingin

Di seberang pulau

Menantikan pelukan

Sedang kau terapung di kesunyian malam

Sekedar ingin

 

Langkahku seperti ini

Ucap jiwaku pada maklumat yang mengintai

Luruh semerbak wangi bunga bertaburan

Sekedar ingin

 

Kau tak tahu pelik dalam diary rasa ini

Untuk apa juga kau tahu

Bahwa sekejap akan berubah

Waktu tak akan menunggumu siap

Kaulah yang harus memulai

 

Sekedar ingin

Warisan ini akan terus menjalar

Hingga nadi tak akan lagi berdetak

Hingga saat itu tiba dengan senyum bahagia

Aku adalah aku

 

Yogyakarta, 30 November 2019

 

—–

fina.kaa_

Terjatuh

Terjal-terjal menyapamu

Berlari sempoyongan, lalu mencelakaimu

Kau ambruk tak tersadar

 

Dan, tahukah kamu

Ini adalah bagian dari jebakanku

Kuingin kau jatuh pada ngaraiku

Lalu, kan kumandikanmu dengan kasihku

 

Madiun, 29 November 2019

 

—–

kaharirian

Pusaka Jejak

 

Temaram yang merambat pudar menembus juga hari-hari yang menyisakan nostalgi sepanjang perjalanan itu.

Seperti catatan harian yang apik

Tulisan menyisir baris halaman,

Meniti bait-bait homograf

Lalu mewasiatkan kata pada kalimat pusaka yang sakral :

Kerinduanku tertuang dalam goresan tinggalanku

 

#Palimanan, 30 November 2019

 

—–

fina.kaa_

Aku Bukan Lekuk

Saat bising-bising itu menyesatkanmu

Lalu menelan matamu

Dan kaupun hanya buntu

 

Kompasmu tak berjalan

Petamu koyak

Mata angin tak beraturan

 

Dan, kau menderap padaku

Meninggalkan jejak jemejak ruat, ruam, dan rusak

 

Tapi lekuk tubuhku, bukan lekuk jalanan

: Aku tak bisa ditempuh banyak orang

 

Madiun, 28 November 2019

 

—–

poetriazela

Peninggalan

 

Aku gila belajar

Agar ilmu mengalir seperti air

Singgah di tempat yang butuh

Hingga menyebar tanpa jeda

 

Hanya ilmu peninggalan yang layak untuk manusia

Harta bisa membunuh

Harta bisa melupakan

Ilmu berevolusi bersama zaman

 

Ingat ilmuwan zaman dahulu

Manfaatnya mengalir hingga hari ini

Berubah mengikuti zaman

Ilmuwan hari ini berinovasi

 

Jika nyawa sudah kembali ke haribaan Tuhan

Nama akan mengabadi, ilmu terus mengalir

 

-Azelais

 

Lubuk Alung, 30 November 2019

 

—–

fina.kaa_

Malam

Kau tak kunjung masuk rumah dan memanen mimpi

Barangkali kau masih disibukkan oleh degup-degup malam yang lebam

Yang sejenak mendudukkanmu di teduh bintang yang kelaparan

 

Kau berlari menjejaki air mata

Mengejar lentera kecil yang berseliweran

 

-Aku adalah kunang-kunang di latar pikiranmu

yang tercipta dari gemuruh-gemuruh rindu

 

Madiun, 27 November 2019

 

—–

rahmahmursalim

Anugrah Terindah

 

Kepada bumi

Terima kasih untuk alammu yang membentang luas

Dengan hamparan keindahan

Terima kasih untuk lautmu

Yang menghidupkan biota beraneka ragam

 

Izinkan aku menjadi sebaik-baiknya khalifah

Demi menjagamu keasrianmu

Demi menjaga alam yang telah dititipkan Sang Maha Pencipta

 

Tegur aku jika suatu saat

Tanganku merusak segala kesuburanmu

Kelak,, jika masaku denganmu berakhir

Segala bentang mu akan kutitipkan pada anak-cucuku

Agar menjadi cerita perihal anugrah yang terindah

 

—–

fina.kaa_

Asap

Molekul-molekul tajam selalu menabrakmu

Ribuan kata jatuh, sakit, lalu mati

Asap-asap sesak, asap-asap luka, dan asap-asap kebencian

Tertebar lihai penuh kepuasan

 

Kita semua sedang dibunuh

Oleh pembunuh yang juga membunuh dirinya

 

Tapi, seribu maaf seribu tolak

Aku tak ingin mati bersamamu, aku tak ingin mati karenamu

 

Madiun, 25 November 2019

 

—–

yut_ais

Jauh Selepas Pagi

jauh selepas pagi

sedaras mantra ayah

mengalir pada

tubuhku yang lekas mekar

menjadi pemberkat dalam hidupku

jauh selepas pagi

ayah memberi isim yang indah

lalu menghablurkan ke segalanya

untuk hidupku

—yang bersembunyi selama hidupnya

2019

 

—–

perempuanbumi

Warisan

Karya : Dindara

 

Ibu dan ayah mewariskan cinta dan kasih

Kepada anak-anaknya

Melebihi dari apapun

Yang paling berharga

 

Bukan hanya kecantikan dan ketampanan

Tetapi budi pekerti

Yang melekat di hati

Sampai akhir hayat nanti;

 

Warisan yang tak akan ada habisnya

Dimakan usia dan masa

 

Garut, 30 November 2019

 

—–

perempuanbumi

Tetap saja

Karya : Dindara

Mendaki berdua

Melewati rintangan

Melewati gunung-gunung

Dan menyebrangi lautan

 

Namun, tetap saja

Jika perasaan tak saling sama

Tidak akan ada sebutan “kita”

Dalam setiap perjalanannya

 

Garut, 29 November 2019

 

—–

ummi.l

Warisan semesta

 

Entah kekar atau gemulai

Warisan itu harus kau jaga

 

Entah berhijab atau bersarung

Warisan itu harus kau bimbing

 

Ketika semesta percaya

Memberimu warisan yang amat berharga

Detik itulah

Waktumu, tenagamu, dan bahkan hidupmu

Bertanggung jawab pada arah langkah warisan semesta

 

November, 2019

 

—–

perempuanbumi

Antara

Karya : Dindara

 

Kau berdoa

Menengadahkan tangan

Duduk diatas sajadah

Di antara dua lipatan kakimu

 

Menutup mata

Di antara malam yang panjang

Yang selalu kau idamkan disetiap malamnya

Dengan perasaan yang sudah tak lagi remuk

 

Garut, 28 November 2019

 

—–

@anugrahprasetya_

Bocah Petualang

 

Kau adalah pemandu yang mengajakku tersesat dan hilang. Dan, aku seperti bocah lugu yang mudah kau tipu.

 

Mulai dari dua telaga indah di wajahmu dan ilalang-ilalang yang menyembunyikan keberadaannya.

Aku seperti bocah yang berenang di airnya yang jernih.

 

Lalu, pada goa yang bersuara; mendesah atau berpuisi. Kau beberapa kali mengulumku di sana. Seperti permen di mulut bocah.

 

Kemudian, berjalan di celah tebing dadamu. aku berpikir: aku akan betah berlama-lama di sini. Dinding-dinding tebing ini lembut dan hangat. Aku ingin terlelap seperti bocah yang lelah habis bermain sepanjang hari

 

Sampai, kau mengajakku tersesat di hutan dan sebuah jurang menungguku di dalamnya. aku menatap kegelapan seperti bocah yang tegang karena ketakutan.

 

“Ini lebih lembut dan hangat dari tebing yang baru saja kau tinggalkan, sayang.”

Kau mengusir bocah dalam tubuhku – Menyisakan ketegangan?

 

— Kau mendorongku masuk ke jurang itu. Berkali-kali.

 

Jakarta, November 2019?

Anugrah Prasetya

 

 

—–

@nanafirmansyah16_

Maaf ibu

 

Ada ngarai dilekuk pipimu ibu

Saat aku jauh dari inginmu

Melepaskan semua harpan itu

Khalayaknya debu

 

Maaf jika aku telah menjadi pisau

Mengiris-iris tipis hatimu

Menusukannya kejantungmu

Tapi itu bukan inginku

 

Sikecilmu ini ingin dekat

Masih ingin mengeja huruf

Atau menyusun fuzzle

Dan Mendengarmu bercerita

 

—–

@dinimizani

NGARAI SIANOK

 

di kedalaman matamu yang ngarai, telah kau bentang segala lukisan yang kanvasnya adalah perjuangan menakluk takdir.

 

tiap patahan dan lembah memiliki cerita yang iramanya mengusung rinai dan gigil.

 

sianok menyinsing sunyi. uir-uir bersahutan menyingkap takdir.

 

nun jauh di hulu, gelombang tak henti mengintai.

 

Di 29 November 2019

 

—–

@kaharirian

Tebing dan Lembah

Aku lejar merayap keteguhanmu

Memanjati tebing-tebing batu curam

Jurang nyatanya sebuah lembahan yang membatasiku.

Tapi langkah kulaju

Hingga kakiku terseret cadas

Di antara keringat dan getirku

Tebing curam hanya menyimpan keteguhanmu

Aku lejar menggoyah kerasmu

Menggegam dinding dan celah

Pijakanku telah menggoyah hati dan asaku

Langkah masih kulaju

Tapi ngarai membentangkan keluasan

Dari kedalaman tak bisa kurayapi lagi

Catatan nyatanya sebuah elegi yang menahanku

#Palimanan, 29 November 2019

 

—–

rayottid

Puisi – Pasti Sampai

Kau menyusuri hilir sungai

diapit dua curam tebing

gurauan kehidupan

 

Sesekali batu memberi diri,

merayumu,

menjamu dirimu

agar kau lekas berhenti

 

Tapi tiap lipatanmu adalah besi

Sedang gerak-gerikmu adalah api

Kau pasti!

Embusan angin pula mengamini

 

Manado, 29 November 2019

 

—–

artdiantlazuardiii

ELEGI UHUD

Kau telah tertidur, di dasar ngarai Uhud yang panas mengganas. Bergegas sekelompok burung Nasar, asik mematuk-matuki matamu yang cemar.

Seakan tak peduli kecewa, telah membatu di dada. Seorang perempuan gila, memakan jantung beserta rasa sesalmu yang hina.

 

Padahal sekejap lalu tangan ringkihmu hampir menggapai menang, namun harta benda menggoda nafsumu tak tenang.

Di hadapan segala yang berkilauan, kau coba peluk semua kejayaan. Rakus telah kuasai dirimu luar dalam, membuat matamu buta akan segala aturan.

Namun siapa sangka, ratusan panah berbalur kutukan mengubur mimpimu dalamdalam.

 

Dan kini, malaikat maut telah menunggu di gerbang penyesalan. Dengan lesu kau berusaha mencari jam pasir pemutar waktu, tapi yang kau temukan hanya kenyataan pilu.

Sampai saat ini bukit Uhud dan seluruh penghuni telah jadi saksi, tentang dukamu yang abadi sepanjang zaman.

 

Kotabumi, 29 November 2019

 

—–

ekadrienasari

Bosan

 

Kau dan aku tak lagi bersuara

Sebab teriakan telah habis

Kini kita terdiam

Dengan pertanyaan bermunculan

Kemana rasa akan terbawa?

Akankah kita tetap memaksa?

Celah di antara kita sudah seperti jurang

Menganga lebar tak dapat disatukan.

Mungkinkah masih dapat kita rekatkan?

Sedang rasa sudah terkikis bosan.

 

281119

 

—–

fithrisuffi

Tak Mengapa

Tak mengapa sendiri

Dalamnya jurang tak akan membinasakanmu

Selama terjalnya bebatuan justru membantu menguatkan akarmu

Sedang bunga-bunga bebas mekar bercanda dengan kesabaran

 

Dengarkan saja

Kidung alam di antara kicauan burung

Atau senandung perdu di sekelilingmu

 

Hari masih panjang

Matahari esok masih bersinar terang

 

Tetaplah tumbuh

Tetaplah tangguh

 

Tak mengapa

 

Jambi, 29 November 2019

 

—–

lestari_fa82

Sebaik kata Kita

Mengembara asa menua dalam langkah

Kita hanya ada satu Pencipta

Menerawang hingga kepelosok jumpa

Bagaimana dengan rasa yang berselimut

 

Hendak jalan terjal berliku dan ngarai

Tebing menjumpai segenap angan

Kau berdiri dan rasakan

Kita adalah makna dalam satu arah

 

Sebaik kata kita

Curam pada setiap kata

Membangunkan kisah penuh makna

Di atas puncak berbatuan

Kau saksi pada jejak-jejak yang melekat

 

Yogyakarta, 29 November 2019

 

—–

rabakhir

Kisah Musafir yang Tersesat (2)

aku terus berjalan melanjutkan perjalanan

tanpa henti dan jemu sampai aku menemukan

sebuah ngarai yang kedalamannya adalah

puisi yang maknanya tak dapat ditebak mata

 

aku yang musafir

adalah pembaca yang tak ingin

melewatkan barang satu kata

 

aku melompat pada puisimu yang ngarai

tak ada apa pun yang kutemukan kecuali

jiwa yang kau tinggal

aku memeluknya erat-erat

 

kini kita tersesat berdua

tak ada yang dapat menemukan

sebab katamu telah menjelma kisah mistis

yang mencegah orang untuk berjalan mendekat

 

Tangerang, November 2019

 

—–

iq_risfandi

3 rangkap Haiku merana

kekasih datang

ketika jiwa rawan

terjun telentang.

 

tubuhnya remuk

di dasar ceruk dalam

malang tak tertolak.

 

lalu asmara

hilang tidak terbilang

menjelma hampa.

 

Tangerang 29 November

 

—–

rahmahmursalim

Hamparan Harap

 

Ada hamparan terbentang dihadapku

kutatap luas pada ketinggian

Ada harapan tersimpan disana

 

Ingin ku rengkuh ketinggian itu

Tapi aku takut akan terjatuh

Pada dalamnya jurang kecewa.

Aku takut tethempas kuat lulu sakit tak berkesudahan

 

—–

teguh_maulana2018

Bernaung

Tatapan tajam menelisik

Mencari suara bersahut sahutan

Mimpikah ini sementara berdiri bulu kuduk

Mencoba meraih sebatang ranting yang rentan.

 

Suara terdengar lagi

Namun angin yang menyelinap diri

Pasang kuda kuda bila perlu

Menanti dan menunggu.

 

Kepala tengadah sempurna

Pasang semua indera berpunya

Tidak ada apa apa ternyata

Hanya alam liar menyapa.

 

Takjub tak percaya

Bahwa ini yang ada di depan mata

Satu satunya yang tercipta

Di bawah indah nyata.

 

Keindahan alam suaka

Seribu makna terpendam sudah

Baru terasa ada didalamnya

Ngarai bukan lembah.

 

Karanganyar____

Nov. 29, 2019

 

—–

syams_x

Judul: Bentang Pemisah

Ada ngarai di antara kita

Terbentang dari sketsa ucap pesimismu

Juangku menjadi serpihan tinta tak berwarna

Kusam, muram, dan pupus di telan kanvas egomu

 

Mengapa engkau menasbih menjadi esensi nyata

Seolah imaji cita yang kurangkai adalah kekonyolan belaka

Sampai kapan, cinta?

Kau biarkan bentangan itu memisah kita

Seolah aku seorang Edolas, dan kau putri Magnolia

 

Bandung, 29 November 2019

 

—–

poetriazela

Mengenang

 

Segar mata memandang

Sejuk udara menyapa

Namun, pilu hati

Mengiris mengingat masa

 

Ini tempat sungai darah

Nyawa melayang, jasad terbengkalai

Kejam tangan para penjajah

Menoreh pilu hati si pendengar sejarah

 

Tebingnya cantik

Dedaunan hijau segar

Tetapi cerita tetap perih

Kejam tangan penjajah di tempat indah .

-Azelais-

.

Lubuk Alung, 29 November 2019

 

—–

lembayungmerah88

CARA MENDAPATKAN AKU

Aku tak rumit

Tak membuat sulit

 

Jika kau bilang aku tak tergapai

Mungkin kau salah dalam cara mengupayakan

 

Jangan kau daki, cinta milikku tak tinggi

Jangan kau panjat, cintaku tak curam

 

Dekap aku dengan pandanganmu

Nikmati setiap aku

 

Dengan sendirinya

Aku akan termiliki olehmu

 

Bandung, 29 November 2019

 

—–

yut_ais

Perihal Dua Nama

 

aku

adalah perihal dua nama

 

perindu

yang sedang menunggu

di tebing senyum kecilmu

 

dan

 

pecinta

yang ingin menduduki

jurang di hatimu

 

2019

 

—–

@rabakhir

Memilih Jalan

Jalan yang berkelok adalah

jalan yang penuh rintang adalah

jalan menuju Tuhan

 

Sebagaimana ombak yang tinggi adalah

Ombak yang kita hindari adalah

ombak yang disenangi pelancar

 

Maka bagaimana caramu menuju Tuhan?

jika jalan yang kau pilih adalah

jalan yang lurus-lurus saja

 

Tangerang, November 2019

 

—–

@eddy____sup

DOA

Rabb

sebelum kening

benarbenar hening

dan hening

benarbenar kering

 

lesakkanlah cahaya-Mu ke dadaku

 

Rabb

sebelum rongga itu

menelanku

dan batubatu

tidur di tubuhku

 

rubuhkanlah istana di kepalaku.

 

(2019)

 

 

—–

artdiantlazuardiii

DALAMNYA PELUK

Butuh waktu lama

untuk sampai ke tempatmu

penuh lika-liku lubang sialan

dengan berbekal penuh kesabaran,

penuh luka-luka dalam perasaan

serta semangat yang hampir retas

di beberapa perhentian

 

Lalu di tujuanku yang sunyi

kau hidangkan segelas rindu

akan segarnya susu ibu

dari balik dada yang kau sembunyikan

dalam gelapnya ruang

Sedangkan pemuda pemudi

bermain di atas bebatuan

tak peduli akan pelukan teduh

yang kau tawarkan

 

“Ijinkanlah aku menelusuri lekuk tubuhmu yang telanjang.”

Seru permintaanku yang lancang,

namun tak kau permasalahkan

 

Dengan kasih sayang penuh

kau menuntunku dengan seluruh

masuk ke dasar pelukmu, tenggelam

di kedalamannya jiwaku istirahat

dengan tenang, lalu hilang

 

Kotabumi, 28 November 2019

 

—–

rayottid

Puisi – Selamat Hari Pergi

Lubang di hati disirami

hangat rindu susu coklat

di pagi hari dari yang telah pergi

 

Sebilah pisau menyalami

kue tar yang diam sendiri

tanpa nyala lilin

dan embusan doa-doa umur panjang

yang terucap di dalam hati

 

Tali-tali mengikat balon-balon

melayang bersama kenangan

tentang hangat peluk pertama

seorang wanita

 

Putih gula berserakan di cekung bibir,

menunggu tangan tua mengsuap

air mata yang jatuh karena

ditarik paksa oleh tarik-embus

napas yang menyingkap mantra

“semoga kau tenang hidup di alam sana”.

 

Manado, 28 November 2019

 

—–

fithrisuffi

Persembahan

Keluk, lekuk abadi

Terpahat, terpatri sejati

Dalam kilas perjalanan sejarah

Tentang sebuah persembahan

 

Maharaja menurunkan titah

Sesembahan di gelar di atas altar

Berharap sang dewi pasrah

Menghamba dirinya selesai fajar

 

Tetiba terdengar jumawa suara sang jago

Di antara tabuh antan bertalu

Sambil melempar jauh sang ego

Maharaja luruh tertunduk malu

 

Jambi, 28 November 2019

 

—–

teguh_maulana2018

Jam Pasir

Indah terlihat beda

Enak dipandang

Anggun bermakna

Asyik disanjung.

 

Bolehlah sesekali

Itu dirimu nyata

Namun hati kecil menolak permisi

Harusnya tidak disana.

 

Baiknya dirumah

Jangan diumumkan

Buat yang di hati lebih indah

Itu mau pribadi bukan untuk orang lain.

 

Karanganyar,

Nov. 28, 2019

 

—–

syams_x

Tenggelam

aku tak mau melihat

takut terjerat seperti mutiara kata

dan manuskrip elegi zaman

yang tenggelam termakan syairnya

 

Aku tak mau mengecap

waktu mungkin berpindah

tetapi hasrat masih tertawa

tanpa pernah terbawa

di sana dia menikmati setiap gurat nakalnya

 

Bandung, 28 November 2019

 

—–

fithrisuffi

Malam Keruh

Ketika langit melipat siang

Dan menurunkan jubah kelam

Angin mendesah resah

Menghempas tubuhnya di atas samudera

Gemuruh ombak saling dahulu

Mencapai tepian pantai yang menanti dengan tabah

 

Pada suatu malam keruh

Aku menyimpan peluh

Dalam sebait goresan lusuh

 

—–

bagus_dwian

Perempuan di kerumunan hewan

 

Lekuk tubuhmu menggoda

Mata-mata keranjang yang siap menerkam

Menarik mulut-mulut penuh caci maki

Berlagak paling suci

 

Lekuk tubuhmu menggoda

Mata-mata yang meraba tiap inci

Tangan-tangan yang menggambar dalam awang

Mulut-mulut yang siap melecehkan

 

Lekuk tubuhmu menggoda

Begitu indah tapi dijelajahi tiap mata

Begitu menawan tapi menjadi gunjingan

Begitu sedap dipandang tapi menjadi bulan-bulanan manusia bernafsu hewan

 

Betapa malangnya perempuan di kerumunan hewan.

.

Sidoarjo, 28 november 2019

 

—–

lestari_fa82

Lekuk tanganku

Sedari hebis menenggelamkan seribu alasan di perbatasan

Kau hinggap seperti kupu-kupu yang elok dipandang

Sajak yang berkabung menebarkan perbukitan nyata

 

Lekuk-melekuk sederet asa

Bertabir dalam melodi kelam hendak hinggap dan menempati ruang

Singgah kau dalam perumpamaan

 

Bagaikan awan bergerak secara perlahan

Lekuk-melekuk sajak beriringan

Tiada tau pasti apa maksud alam semesta

 

Lekuk tanganku

Genggam segala warna pada mata

Sinar melekat berbisik pada sunyi yang menerpa

 

Yogyakarta, 28 November 2019

 

—–

rahmahmursalim

Tentang Rasa

Perjalanan kita kala itu

Kurangakai kata demi melanjutkan aksa

Demi menemukan sebuah cerita

Perihal langkah yang menggejolak pada hati

 

Lekukmu yang menghangatkan nalarku

Mengundang syahdu pada akal yang tak mampu kutepis

Tolonglah, jangan dulu menuai rindu

Tentang temu yang tak berkesampaian

 

—–

nk_adah

Sajak yang Mawar

 

Lekuk daunmu begitu hijau

Bunga putih mengundang kesucian

Aroma merdu

Tertanda sajak yang mawar

 

Bandung 28 November 2019

 

—–

iq_risfandi

TETAP dan TERUS (CINTA) :Miles Davis/So What

 

Acapkali

rindu itu ‘kukejar

lindap dan inap di lekuk matamu.

 

terus,

kau masih saja abai

pada kobar asmara itu.

 

lihatlah nanti

kau segera kudatangi

sebab ladang ku bermihrab tepat di lekuk dadamu.

 

terus,

kau akan tetap buai

pada akbar asmara itu.

 

di penghabisan

kutekan minor nada perlahan

masuk dalamdalam pada liang peranakan

siap kau simpan hingga sembilan bulan ke depan.

 

terus,

aku siap siaga

berada tepat di sampingmu berbaring.

 

Tangerang 28 November

 

—–

ummi.l

Rain(du)

Rintik lembut mulai menyapa

Seperti janji pada semesta

Meski kadang hadirnya tak terduga

 

Aku datang

Ia pergi

Aku berlari

Ia diam

 

Tak berkutik

Segala hal yang lalu datang menyapa

Aku harus apa ?

 

Sapa tak lagi nyata

Rindu hadir tak terduga

Jatuh lembut perlahan deras tak terkira

Aku bisa apa ?

Selain menerima dan menikmatinya

 

2019

 

—–

ummi.l

Penghambaan

Saat layu pilu membiru

Kain digelar

Khusyuk mengumbar

 

Ketika hingar bingar datang

Secuil rayu bentuk penghambaanpun tak lagi terdengar

 

Gemerlap nyatanya menyesatkan

Sedang sunyi seringnya menenangkan

 

Pada titik rotasi bumi bervolusi

Seorang hamba hanyalah hamba

Yang datang kala susah menyambar

Dan hilang saat gemerlap diumbar

 

—–

ummi.l

Karat

Kuning melekat

Hitam legam jadi tak bermartabat

Sia-sia

Kuat tak lagi kokoh

Meniung namun tetap dibuat

Aneh

 

Kuning

Hitam

Kokoh

 

—–

ummi.l

Baru

Menjadi tuan untuk diri sendiri

Menguatkan azzam

Mengibarkan bendera perang

 

Lelah harus kau lalui

Kata orang harus kau acuhkan

Perihal menata hati

Kau paling tahu dirimu sendiri

 

Baru

Bukan hal eksistensi

Bukan pada keriyaan hati

 

Baru

Untuk tuan yang lebih baik dari yang lalu

 

2019

 

—–

ummi.l

Kamu dan Kematian

 

Entah diangka keberapa kita akan berjumpa.

Entah kamu atau kematian yang ku jumpa terlebih dahulu.

Keduanya sama, akan membawaku ke fase selanjutnya.

Keduanya sama, pernah ku damba kala putus asa.

Namun aku sadar~

Keduanya pun sama, perlu banyak persiapan sebelum berjumpa.

Entah kamu atau kematian yang ku jumpa dulu.

Semoga diwaktu yang tepat aku sudah siap untuk melangkah ke fase selanjutnya. .

 

Bodeh, 6 Januari 2018

 

—–

ummi.l

Bebas Terbatas

Pada dinding-dinding suram

Ada lagam yang tak bisa dipahami

 

Di atas langit-langit kamar

Ada sinar yang enggan menembus barang setitik

 

Sepanjang kalimat terangkai jelas

Jeda penghubung menjadi batas

Batas jelas tak jadi tampias

Jeda menjadi bebas

Bebas memberikan kata hingga menjadi makna

 

2019

 

 

—–

lembayungmerah88

DALAM SEMESTAMU

Kugamit lekuk itu

Meraibkan akal

Disaat deru nafas menjadi tuan

Dan cumbu menjinakkan berahi

 

Kuciumi setiap inci garis lekuk

Sorot tatap syahdu menelanjangi jiwa

Senyum memanjakan biar

Desah rayu irama pengantar jiwa

 

 

Nona, di dalammu

Aku karam

 

Bandung, 28 November 2019

 

—–

kaharirian

RENGGANIS

Kita beranjak dari kejumudan

Yang tersisa dalam sebuah jejak

Dari nostalgi.

Pijakan yang tertutupi

Padang ilalang kecoklatan

Keringatmu bercucuran

Di antara cemara cemara kering

Tanda panah mengarah ke sebuah lekukan

Menyeret langkah

Yang terbebani kenangan

Dalam dinginnya malam

Api unggun menjadi penghangat

Di tengah rimba kesunyian

Dan kedinginan

Ke relung tulang

Tak ada yg perlu disisakan

Kecuali jejak

Sementara kita

Tak perlu mengubah arah kompas

Dengan mencari punggungan lain Pada saddle dan kerapatan kontur.

 

Palimanan, 28 November 2019

 

—–

jaesk_____

PERKUSIONIS

Pada gelaran orkestra alam

bertajuk simfoni musim hujan,

berbekal stik dan mallet

aku dan petir ambil bagian sebagai

penggawa penyemarak

sekaligus pengatur tempo

di belakang drum, timpani, dan simbal

 

Taman Ismail Marzuki, 10.44

 

 

—–

@lembayungmerah88

UCAPAN

Kau lempar!

Tepat menepat

 

Menghujam nadi

Mengalir merasuk

Meracuni seluruh

Menjejak tak mati

Melumpuh sukma

 

Bergemuruh

Murka milikmu

 

Bandung, 27 November 2019

 

—–

rabakhir

Mengutuk Guntur

:Indah

 

pada malam yang mendung

kau adalah guntur

yang sebentar datang dan sebentar pergi

 

suaramu yang guruh-gemuruh

memekakkan telinga yang sunyi

wajahmu yang kilat-mengilat

menyilaukan mata yang gelap

 

aku yang berusaha menemuimu

pun terjungkal kala membuka pintu, aku

melihat bayi yang puisi menangis

ia ditinggal ibu, ia menggigil

 

belum diberi majas dan asi, si bayi sudah disapih

tak ada judul atau pun tanda nama yang tertinggal

tak tampak niat mengendapkan apalagi membesarkan

 

dadaku menyuarakan gemuruh yang marah

malam itu aku mengutuk guntur

yang sebentar datang dan sebentar pergi

 

Tangerang, November 2019

 

—–

eddy____sup

KETIKA KAU TERBAKAR

sepasang matamu yang pisau

itu menyala

 

membakar kotakota

dan hutanhutan di dada

 

di hadapanmu semua yang di kepalaku

adalah genderang

 

dan hanya ada satu jalan pulang :

diam.

 

(2019)

 

—–

syams_x

Yang Bergolak

Riak bunyi dari nestapa kabut

Yang teriris embusan pekat

Menyeringai meminta tahta

Gemuruh pepohonan melontar protes

Pada ujung alir sungai yang kehausan

Memohon pamit tak lagi merindukan

Ramai sudah pergolakan

Apalagi tetangga, denyutnya semakin menggila

Takut embusan tak lagi menyapa dahaga nyawa

 

Bandung, 27 November 2019

 

—–

rahmahmursalim

Biru yang Membiru

Wajahku mendongak

Kutatap langit yang angkuh

Ada biru yang syahdu di sana, sedang tertawa seirama awan putih nan indah .

Kulirik jauh kedepan

Pada gemuruh ombak menghantam karang di pesisir

Pun sama, Ada biru di sana

Senada dengan untaian gelombangnya .

Pada biru yang membiru

Sesekali kita perlu mendongak keatas

Ada Yang Maha Kuasa disana

Tempat segala doa di panjatkan

Sesekali juga kita menatap lurus kedepan

Pada hamparan laut nan indah

Ada harapan disana, menanti di ujung dermaga tentang rindu tak berkesudahan.. .

 

—–

lembayungmerah88

PENGORBANAN

Aku kelopak kamboja kering

Mati di keranjang sesaji

 

Yang padamu aku serahkan seluruh wangi

Yang padaku kau tetap membatu diam berdiri

 

Bandung, 26 November 2019

 

—–

iq_risfandi

Aksara pualam

Kau membatu

Bersama datu-datu

Demi laku luhur

Juga kebun ladang subur.

 

Kau merajuk

Di dalam janji muluk

Demi bebas tanah air

Dari kesumat raja-raja nyinyir.

 

Tangerang 26 november

 

—–

bagus_dwian

Abadi

Aku masih saja memandangmu. Entah sudah berapa ribu kali aku memandang, bukan bosan yang datang. Tapi ingatan tentangmu yang selalu melayang.

 

Mengenalmu adalah candu yang tak bisa kusangkal. Sejak saat itu diam-diam kupahat arca tentangmu didalam hati perlahan tapi pasti. Kau menjelma menjadi monumen paling berharga dalam hati. Mungkin karya terindahku perihal rasa.

 

Bagaimanapun nanti, entah kita bisa berjalan bersama atau mengambil langkah yang berbeda, kau tetap menjadi yang terindah. Karena kau adalah monumen abadi yang tak akan lekang oleh waktu yang fana.

 

Sidoarjo 26 november 2019

 

—–

nk_adah

Di Sudut Kota Kegelapan

Tempo mereka berangkat ke perayaan

Sang teladan lekas memusnahkan reca amatiran

Manusia mengada-adakan

Kebodohan

 

Mendewakan

Suatu objek keabnormalan

Sungguh kesombongan

Alangkah celaka kebatilan

 

Mudah-mudahan

Terhindarkan

Kelemahan

Syetan yang saling berbisikan

 

Bandung 26 November 2019

 

—–

nk_adah

SUNYINYA MALAM SEHABIS HUJAN

Hirup aroma hujan

Dingin

Berakrabkan oksigen

Malam yang kehilangan bulan

 

Sang bintang pergi beralasan

Sampai disini tak ada kebisingan

Apalagi comelan

Tiada lagi seharian

 

Bandung 25 November 2019

 

 

 

—–

@lestari_fa82

Saat itu

Terkikis dalam gelombang lenyap tak lagi berkutik

Menari dalam sayup kutub yang terjerat

Seperti rantai itu

Terikat dan akhirnya karat

 

Saat itu

Kita pun akan menua

Layaknya rantai itu

Selagi masih menyatu

Kita akan terikat

 

Biarlah bertumbuh dan berkembang

Kita tak bisa berhenti

Menjedah sesaat waktu

Kita tetap beranjak

 

Yogyakarta, 25 November 2019

 

—–

@rabakhir

Pagar Besi

aku adalah pagar besi yang menjaga rumahmu;

dari anak yang bermain petak umpet

anjing yang mengejar kupu-kupu

maling yang gemar mencuri

 

tak ada yang boleh mengotori rumahmu

sebelum kau kembali

dari tempat persembunyian dibalik pundak kekasih

yang entah kapan

 

aku adalah pagar besi yang terus menjaga rumahmu;

dari hujan dan angin yang cemburu

dan terus mempercepat karat merayapi tubuhku

 

aku akan terus menunggumu

tanpa tahu kapan kau kembali

 

Depok, November 2019

 

 

 

—–

artdiantlazuardiii

JANGAN BUKA LEMARI BESI ITU!

————————————————

“Jangan buka lemari besi itu!”

————————————————

 

Pesan dariku,

untuk siapa saja yang coba mengorek kegelapan

di balik sisi lain diriku

Sebab di dalamnya ada sekerat hati berkarat,

tak lagi terjamah perasaan hingga membiru

Dalam udara busuk yang pekat,

menunggu di santap oleh sang waktu

 

Kotabumi, 25 November 2019

 

—–

anugrahprasetya_

Napas

Aku memasuki hidupmu bagai oksigen saat kau bernapas. Tarik perlahan – hembuskan perlahan. Menjadikanmu tenang. Begitulah yang aku inginkan: berguna untukmu.

 

Dan setelah kau tenang. Aku menjadi karbon dioksida dari hembusan napasmu. Menyebar bersama udara – entah ke mana

 

Jakarta, November 2019?

Anugrah Prasetya

 

—–

rayottid

Puisi – Putus

pagi tadi

cinta bicara soal

melepaskan,

dan dilepaskan

 

menyebar ia ke udara

bertemu dengan

luka,

dan duka

 

senyawanya telah melebur

mencipta sebuah hal baru:

dua centang biru

di percakapan

whatsapp-ku

 

Manado, 25 November 2019

 

—–

fithrisuffi

Rantai Usang

Kemarin kita bertaruh

Tentang berapa lama belenggu itu

Mampu menahan kita

 

Angin mengacaukannya

Hujan mengacaukannya

Panas mengacaukannya

Bahkan debu pun ikut mengacaukannya

 

Makin lama rantai itu makin usang

Berkarat akibat korosi yang berlarut

Namun tak satu pun dari kita mampu melepaskan simpulnya

 

Entahlah

 

Jambi, 25 November 2015

 

—–

teguh_maulana2018

Al-Kuhl

Bagaimana mungkin tidak terkena akan hadirmu

Selalu saja muncul di benak sering

Berseliweran bagai debu debu terombang-ambing angin lalu

Sedetik melintas semenit kemudian muncul hilang.

 

Bagimu tak mengapa

Tetapi diri ini berbeda rasa

Mampu membakar dengan mudah

Hadirmu pigmen dalam satu hari

Vitamin jiwa semoga saja

Bisa menjadi racun tubuh

Dengan rantai pendek normal cairan bening mudah bercampur

Makin sulit saat panjang rantai atomnya

Hingga Lima sampai sembilan jumlah atom C seperti minyak.

 

Mungkin beda hukum Vladimir Markovnikov di reaksi adisi

Ada pula Aturan Saytseff dalam dehidrasi

Atau atom dari Rutherford

Bisa juga sinar-X Wilhelm Konrad Rontgen sifatnya tidak diketahui.

 

Aku tidak tahu formula apa agar jauhi darimu

Bersenyawa dengan siapa agar terselamatkan

Reaksi mana hingga aksi redam selesai

Atau harus kumulai cari unsur yang awal

Sehingga aku mampu menjadi zat kimia yang paripurna.

 

Karanganyar,

Nov. 25, 2019

 

—–

syams_x

Yang Khawatir

Bunga-bunga di taman khawatir

Patung besi tua di ujung kota sudah sekarat

Hamparan debu karat mulai menyelimutinya

Sepertinya kepingan angin dan gerigi zaman bersekongkol

 

Begitu pula dengan kekhawatiran senja

Di setiap waktu menggulung diri pada suatu hari

Dia selalu pucat pasi melihat generasi yang menyepi

Pundak-pundaknya tak sekuat sang kakek

Yang mampu menopang laut, gunung dan langit

Darah-darahnya terhenti membawa kabar

Langkah-langkahnya terhapus pekikan ombak

Tatapannya terikat di sudut samar

Propaganda rasa mengubahnya menjadi tak berjiwa

Hanya bisa melukis senyuman dan retakan

Di pelipis kabut kepalsuan untuk esok yang terabaikan

 

Bandung, 25 November 2019

 

—–

bagus_dwian

Oksidasi hati

 

Andai kita tak pernah bertemu mungkin aku tak akan seperti ini. Menunggu yang tak pasti adalah hal yang paling kubenci. Tapi entah kenapa menantimu aku mau. Padahal aku tau, kau sama sekali tak bisa ku genggam seperti gerimis yang turun di tanah gersang. Yang jatuh tak menyisakan bekas.

 

Semakin hari renjana seolah menggebu dalam hati. Dan malam adalah waktu terbaik untuk mengenangmu dalam keheningan abadi. Mengais sisa-sisa kenangan indah bersamamu yang selalu terbayang dari petang hingga pagi menjelang.

 

Mungkin untuk beberapa waktu, hati akan baik-baik saja. Tapi, hati juga memiliki rasa. Dia ada karena cinta. Yang kutakutkan bukan bosan, namun hati juga bisa lelah, merasakan oksidasi, berkarat dan patah.

 

Sudahlah, biar aku saja yang mengenang atmamu lewat malam-malam panjang bersama rindu yang tak kunjung padam.

 

Siwur, 25 november 2019

 

—–

rahmahmursalim

Sepotong luka

Pada hati yang perih

Pada nalar yang berkawan ego

Ada luka yang mulai buram

Tentang sakit yang perlahan memudar

 

Ia lebam

Bagai biru yang terang

Ada secuil nanah yang menuntut dihapuskan. .

Kau rasa perihnya?

Bagai lapisan kulit yang diserabuti

Dari daging dan tubuhnya

 

—–

lembayungmerah88

AKU YANG LAIN

Dia si perempuan itu

Membalur luka dengan kata kata tangguh berbau busuk kemunafikan

Ternganga semakin lebar koyakan amis terbiar biar

 

Si perempuan itu

Menyingkap lubang lubang berisi nanah agar dirawat alam semesta

Harapannya satu, angin malam milik tuhannya dapat berubah fungsi menjadi penyembuh

 

Perempuan itu

Kaku tergeletak mati di bawah sorot lampu jalan sudut kota

Dengan karat menutupi luka, dengan jasad erat memeluk bangkai harap

 

Bandung, 25 November 2019

—–

aldrifajar

KOPER

deru mesin bis antar kota antar provinsi membawa bapak ke tiap limbung jalan kelok menjauh dari pulang. di koper bapak telah kemas bisnis segan berkembang dan penyakit kronis. tak ada foto keluarga bisa disimpan dalam koper nan lembab yang kian digerogoti di gerigi ritseleting, sebab bapak menyeret–koper dan isinya–setumpuk karat beroda//betapa kenangan mudah diuap udara lembab.

 

bapak harap masih ada yang membeli setumpuk luka bernanah//karat yang ditinggal terudar.

2019

—–

rie_ku

TENTANG AKU

: yang mencintaimu dalam sendiriku

Ini tentang aku, seorang yang kau kenali di padang savana sedang menorehkan luka di punggungnya yang sepi

Angin kala itu menghembuskan berita kepadamu melalui rumpun bambu bahwa akan ada gelontoran air mata menyeberangi padang padang resah yang akan menjelma oase kesunyian

; itu air mataku

 

Ini tentang aku, seorang yang memaksamu mencambuki langkah sepanjang dataran berbatu hingga luka mengelupaskan kulit kakimu yang tergilas keingintahuan tentang siapa dia yang berniat memadamkan hati bersamaan dengan matahari memadamkan dirinya senja itu

Seorang engkau berlarian menyunggi ribuan tanda tanya sebelum akhirnya sampai di padangku yang temaram

 

“Sebaiknya kau lepaskan gulanamu sebelum kegelapan tak menyisakan apa pun selain kemarung duka. Masih ada aku yang kelak mengganti sahara debu yang bertanggalan dari manik matamu dengan sejumput harapan bahwa hidup masih layak kau nikmati”

 

Ini tentang aku, seorang yang gemetaran saat gemuruh kata katamu meledakkan semesta kehampaan yang sekian lama beranak pinak dalam batinku yang perdu hingga berguguran kepedihan yang bersenja senja menancapkan taring di prahara sukmaku

Duh, alangkah manis mencucup segala yang hidup

; begitulah engkau di mataku

 

Ini tentang aku, seorang yang terkesima pada keluasan hatimu menampung diriku yang begitu pekat hingga kuizinkan diriku menangguk anggur asmara yang kau sodorkan sampai aku linglung mendapati diriku telah rebah di pangkuan asmaradana

 

Ini tentang aku, seorang yang mencintaimu dalam sendiriku. Berharap waktu meluangkan diri menyatukan jarak kita yang kerap tersekat karena kini tak sempat lagi kau tembangkan sayang dari mulutmu yang beraroma rindu dan tembakau

 

Ini tentang aku, seorang aku yang mencintaimu begitu sungguh

 

—–

perempuanbumi

Lahirnya Buah Cinta

Yang memandang penuh lekat

Di mata penuh cinta

Rangkaian rasa menjadi samar

Tubuh mungil yang bersinar

 

Menghiasi kehidupan yang sebelumnya padam

Dengan lentera cinta yang dilahirkan kembali

Kepada Tuan dan Puan

Yang saling melengkapi;

Lahirnya buah cinta

Garut, 24 November 2019

 

—–

yeyenwidiyawati

Gerilya

Bola mata

Kanan kiri mencari cari

Gerangan yang ingin dijumpai

Tercekat

Namanya dipanggil

Terhentak

Bangkit dari kursi

 

Ia hendak berdiri menanyai

Bagaimana rupa diri yang ia nanti

Terlupa bahwa kantung matanya telah bergelambir

Ada sendu ditahan sedari tadi

 

Maaf,

Tuhan berkehendak lain!

 

Ia pergi di hari lahirnya

Menutup angan di kepalanya

Sia-sia pula penantiannya.

 

Klaten,24 November 2019

 

 

—–

aldrifajar

AWAL MULA ADALAH BUNYI

  1. dentum

 

Awal mula adalah bunyi

Tuhan denyutkan sulut

pada hulu ledak menjangkau

gaung menuju gema

Semesta masih kental kala

buih meluas hingga ruang menghampa

kecuali debu yang ramai

 

  1. hantam

 

Awal mula adalah bunyi

Bapak layangkan pukul

lalu tangis pecah menjangkau

tempurung menuju pinggul

Semesta terpantik di benak kala

anak merekam hingga lelap merawat

kecuali dendam yang terjaga

 

2019

 

—–

rayottid

Puisi – Amarah

ditanamnya murka

pada turunannya

sendiri

 

dipupuk nyala-nyala itu

dengan hentakan

tamparan

dan tendangan

 

sepuluh-dua puluh tahun

setelahnya

api merah itu mekar

menghasilkan memar-memar

di lingkungan sekitar

 

Manado, 24 November 2019

 

—–

artdiantlazuardiii

RUANG BERSALIN NOMOR 45

Sebuah kamar hijau di pojokan rumah sakit bernomor empat puluh lima.

Banyak orang berbondongbondong di depannya,

ingin mengucapkan selamat datang atau ingin minta di pulangkan.

Entah aku tak tau apa saja motif mereka.

Di dalamnya ibu berbaring di ranjang besi yang berbunyi ngikngik.

Ingin memanen buah hasil dari bercocok tanam dengan ayah.

Sedangkan ayah tak tau dimana.

Orangorang itupun mencari ayah,

namun dengan nama yang berbedabeda.

 

Tak berselang lama terdengar tangisan bayi dari balik jendela.

Para perawat mulai hilir mudik mengucap mantramantra.

Dan mereka yang sedari tadi menunggu dengan waswas,

sekarang berebut mencarikan nama adapula yang masih ingin pulang.

Si bayi yang kebingungan pun bertanya:

“Ayah dimana?”

“Aku masuk generasi ke berapa?”

“Apakah ada jaminan hidup di Nusantara?”

 

Tak ada yang menjawab,

menafikan keterkejutan mereka masih saja sibuk dengan masingmasing permasalahan.

Si bayi kesal tak di perdulikan lagi.

Dia pun masuk kembali ke rahim ibu pertiwi,

mencari ayah yang tersesat di dalamnya seorang diri.

 

Kotabumi, 24 November 2019

 

—–

@jaesk_____

 

LAHIRNYA SUMUR AIR SUCI

Tendangan kaki bayi kehausan itu

mengetuk perut bumi

 

Dari dalam, sepasang tangan berkilau

menjulurkan kesejukan abadi ke permukaan

yang kelak menghapus dahaga bayi itu,

juga bayi-bayi di seluruh dunia

 

__________

Daratan Tandus, 20.46

 

—–

yut_ais

Jauh Selepas Pagi

jauh selepas pagi

ibu melahirkanku dengan cantiknya rindu

beserta setimba air mata surga

meremas jemari ayah hingga

mewartakan kisah akan fajar

 

jauh selepas pagi

ibu menggendongku dengan penuh rekahan

 

di ruang berpetak serba putih itu

tadah purnama yang ranum, telah dimulai

—seperempat abadku belum usai

 

2019

 

—–

anugrahprasetya_

Kau

: Icha

Kau akan pergi entah dengan siapa pun beranak-pinak

sedang aku tertinggal dengan luka-luka yang melahirkan puisi-puisi

akan kumasukkan namamu dalam judul-judulnya

agar kau tak lepas dari tubuhku, walau hanya kenangan dalam kepala

 

kau akan berbahagia entah dengan siapa – di mana

sedang aku di sini merawat puisi-puisi seperti anak-anak sampai tumbuh dewasa

agar kau bisa melihat mereka menjadi tokoh utama di buku-buku yang kau baca atau di koran-koran yang kau pesan setiap pagi

 

kau akan menua entah dengan siapa

sedang aku abadi terkurung di masa lalu bersama tumpukan luka yang belum menjadi puisi

 

Jakarta, November 2019

Anugrah Prasetya

 

—–

lestari_fa82

Lahir dan Merasa

Seru menderu pijakan langkah pejalan

Menarik ulur keringat basah di kening mu

Kau jatuh terpingkal sedang kau letih pada dunia

 

Amarah memuncak menguasai gelak tawa dan canda

Kau diam bagaikan batu tak lagi bicara

Sedang kerasnya batu terkikis jua oleh air

 

Kau berhenti

 

Kerap kali mendera sukma berkelana

Jatuh ke bumi memberi warna bahagia

Kau lahirkan simponi penyejuk jiwa

Kau kembali memanjat duka

 

Hilang hingga tak lagi menepi

 

Kau lahirkan lagi semangat yang pernah ada

Tumbuh mengakar hingga menjulang ke langit angkasa

Kau torehkan penantian penuh gempita gejolak lara

Kembali tertawa dan merasa

 

Yogyakarta, 24 November 2019

 

 

—–

teguh_maulana2018

Fenomena

Tunggulah besok

Aku pasti datang semoga

Atau hari ini saja

Agar kemarin terbayarkan.

 

Aku memang menunggumu

Datangnya hari ini

Tentang esok hari

Biarlah sang alam yang melantun sajak kisah barunya.

 

Dan kau jawab besok lusa

Bagaimana ini jadinya

Padahal ide dan asa sudah menganga

Tegakah kau beri jeda padaku

Sedangkan rinduku hangat

Akan ada karena dirimu saat ini menunggu.

 

Karanganyar,

Nov. 24, 2019

 

—–

fithrisuffi

Benang Kusut

Jelang memintal

Telah dirapikan mantra

Biduk pun tersampir sewindu

 

Ribuan helai benang putus

Sesajen hilang lenyap

Perahu karam di tengah samudra

 

Lantas siapa yang terjebak angan

Jika mampu temukannya di antara benang kusut

Dia juaranya

_______________

Jambi, 23 November 2019

_______________

 

—–

bagus_dwian

Lahir

Terima kasih tuan.

Atas segala jerih payahmu mempertahankan.

Segala harga diri demi bangsa tercinta.

Rela mati demi berkibarnya merah putih di bumi pertiwi.

 

Istirahatlah kau dengan tenang.

Dengan segala buncah bahagia yang kau rasakan.

Biarlah kami penerus bangsa yang meneruskan.

 

Meski kau mati, percayalah akan selalu lahir jiwa-jiwa pantang menyerah.

Muda mudi yang mengharumkan nama bangsa.

Yang membawa sang saka berkibar di dunia.

Karena NKRI bagi kami tetap harga mati.

 

Siwur, 24 november 2019

 

—–

fina.kaa_

Segala Gerbang Menuju Ada

1/

Bulan di atas matamu ada dengan segelintir gemerlap. Yang kerap kau ajak bersandiwara maupun bermain petak umpet. Ia ada karena kesedihan dan malam.

 

2/

Di persimpangan-persimpangan yang masih basah karena air matamu. Hiruk-pikuk berlalu lalang bak serangga di jalan, namun akhirnya akan kembali kosong. Dan setelahnya kau sadari, kesunyiaan terlahir dari keramaian yang berakhir.

 

3/

Pada pukul 5 di suatu sore, geming-geming mulai berbenturan menyentuh pasang-pasang mata. Gelagak tangismu meramu turunnya hujan dari langit dan netra. Dan akhirnya kau memijaki semesta dari seseorang yang selalu membalutmu.

 

Banyak gerbang bagi segala cipta, namun tak sepantasnya kau melupakan gerbang utamamu.

 

Madiun, 24 November 2019

 

—–

fina.kaa_

Kebakaran

Diskusi hari ini, bersama syaraf-syaraf mata yang merah

Saya belajar menulis puisi dengan air mata tanpa membuatmu basah

Saya terus bergentayangan, meminta tumbal: sekepal kebahagiaan

 

Sepi menjadi siasat isyarat yang sudah melaporkan teka-teki ke saya

: Jatuh cinta padamu sudah terlalu dalam

Sampai-sampai saya terbakar

Dan tak bisa bertemu dengan rindu palsumu lagi.

 

Madiun, 23 November 2019

 

—–

syams_x

Sang Bintang

Binar memuja bintang

Perihal hadir di malam gelap

Ialah remuk reda yang telah membulat

Menjadi asupan padat serbuk-serbuk cahaya

Dari pedih yang terus menyala

 

Menganyam kata atau berbuih mimpi

Semesta tak akan mensajinya

Sinar akan tetap redup

Tubuh akan tetap membungkuk

Mencumbu tanah di bumi sampai mati

Atau bersiap merangkak menuju gugusan

 

Sebuah pilihan menikmati kegelapan

Bersenandung dengan tawa canda kepahitan

Sang bintang pun menyeruak tampak

Bersama kelopak asa yang bernama kegigihan

 

Bandung, 24 November 2019

 

—–

rist_adhi.fanika22

Hidup Kembali

Berlari aku..

jiwa lain dalam diriku bersama

menggasak peliknya hidup

 

Bagaimana mungkin kusirnakan???

serupa nyawa tak berdiryah

menanti masa menjelma diri

 

Berikan izin untuknya, Tuhan..

pun padaku untuk memulai hidup kembali

selepas berselimut kefasikan dahulu

 

Persetan! si jalang pulang kekandang

sendiri biarlah kutebus dosa dikemudian

kuyakin indah takdir-Mu,Tuhan.. .

 

Bersiaplah aku kini..

menanti tangis lahir hidup baruku

teman sejati mengukir masa depan .

 

Gunung Sari, Salatiga, 24 Nov ’19

 

—–

crme.l

MENARI BERSAMA RINTIH.

Kembali hadir bual mu, aku kini diringkuk lara.

Kembali hadir bual mu, aku kini di dekap rintih.

 

Penghujung november lengkap sudah gundah ku.

 

Berpesta bersama air mata. bukan kah ini sorai bagimu? selamat kau berhasil meruntukan ku. (24,00)

 

 

—–

iq_risfandi

Tapi Yang Paling Utama

Dengan seru juga curiga

aku melihat rongga terbuka di ujung kepala

ada gerakan peristaltik rupanya

tapi bukan di saluran cerna

melainkan di terowongan curam dalam rahim bunda

 

Tangan-tangan cekatan

memuntir ini ubun-ubun muda

betapa asyiknya bagai angkasawan

yang meluncur menuju planit aneka warna

ledak tangis pertama

menyeruak dari kedalaman palung jiwa

ada pedih-peri campur bahagia

sebab setan mencubit pantat sebulat tekad

 

bait pertama yang dibisikan di daun telinga

adalah sebait mahapuisi penggetar jiwa manusia

akan kugaungkan gemuruh itu selama raga belum rungkuh

semenjak kumandang takbir hingga tengokan wabarakatuh

 

tapi yang paling utama

: aku nenen dulu yah

Tangerang 24 November

 

—–

lembayungmerah88

TANGIS

Manusia manusia lahir dalam keadaan berduka

Manusia manusia baru, yang menangis memekakkan telinga ketika bertegur sapa dengan dunia baru yang terasa asing

Mereka bersedih seakan tak rela meninggalkan dunia sebelumnya

Yang didalamnya tak akan ada tangis, sebab tak ada duka dan luka yang mampu menghampiri

 

Sedikit berbeda dariku, aku bukan lagi manusia baru

Duka dan luka dengan leluasa mencabik-cabik tanpa ampun

Aku meneriakkan tangis, hingga mengosongkan isi dada

Dan setelahnya, aku terlahir kembali

 

Bandung, 24 November 2019

 

—–

nk_adah

Serona

Kau serupa cahaya

Kentara

Sudah temukan teka teki bergala

Dengan berkelana

 

Bandung 23 November 2019

 

—–

miarrafa

Sajak-sajakku patah

 

Ternyata ia lebih rapuh dari sayap laron yang takmenemukan cahaya.

Malam terseok-seok membantuku mencari serpihannya.

 

Rindu ini sudah habis

dilumat hujan semalam

 

Aku mohon pamit, mencari tanah lain untuk tetap bertumbuh.

 

—–

mi._lkyway

Saya dan Diri Saya yang Lain.

Kemarin kami bertengkar ; saya dan diri saya yang lain.

 

Kau tidak akan bisa berenang, kau takut kedalaman mata kekasihmu.

 

Kau harus tenggelam sesekali supaya mahir menyelami kejujuran matanya.

 

Kami bertengkar hebat ; saya dan diri saya yang lain kebingungan.

 

Saya sudah tenggelam begitu dalam, tapi tidak menemukan apa-apa. Kekasih mengapa kau begitu handal menyembunyi ?

 

Bumi, 20.54

 

—–

eddy____sup

PERTANYAANPERTANYAAN YANG BARA

di risau yang pisau :

 

pertanyaanpertanyaan yang bara

terbit di matamu

 

dan jawabanjawaban yang lahir

menguap di hadapan dadamu

 

dengannya kayu jadi abu

dan batu jadi bara baru.

 

(2019)

 

—–

anugrahprasetya_

Mengungkap rahasia

Pikiranmu: rahasia

Sedang aku serupa orang penasaran

 

Kata banyak orang.

Di dalam kepalamu ada labirin yang menuju sebuah inti: hati

Banyak orang yang datang lalu hilang

Menjelma hantu

dan diceritakan teman-temanmu

 

Pikiranmu: rahasia

Dan aku akan segera mengungkapnya

 

Aku akan bertualang

seperti musafir yang tidak tahu esok akan ada apa

mengunjungi persimpangan bagai labirin yang tak tahu jalan mana menuju inti

 

Di dalam kepalamu

Kaki-kaki menjelma kepercayaan

Langkah adalah keteguhan yang dipilih

 

Pikiranmu: rahasia

Bersiaplah … aku mengetahuinya!

 

—–

namora.rusli

MENDATAR DAN MENURUN

awalnya terasa mudah

semua bisa dilewati

kisah ku adalah melengkapi

tanya dengan pertanyaan

 

rumit untuk dimengerti

mendatar namun terhalang

menurun lebih menakutkan

lagulagu pun nyatanya perlu tangga nada

aku hanya perlu beberapa kata

namun kuingin banyak angka

 

menanjak adalah mendatar yang beranjak

pasti ada waktunya juga kau harus turun

meski berat dan ada yang kurang

sesekali hatihati lah sambil mengeja ke bawah

 

—–

rabakhir

5W 1H

tubuhku adalah kumpulan keping pertanyaan

di kepala terpikirkan tentang siapa

tangan memegang kapan

kaki pergi ke mana

perut bingung untuk apa

hati khawatir pada mengapa

jiwa ragu dengan bagaimana

 

kemudian keping-keping pertanyaan ini

kau sapu

kau buang

kau bakar

 

“aku tak ingin menghabiskan waktu untuk

teka-teki yang tidak dapat kupecahkan”

ujarmu

 

Depok, November 2019

 

—–

jaesk_____

SATU MENDATAR: LIMA KOTAK, ALASAN MENGAPA AKU TAK INGIN LAGI BERTEMU

: A

Jawaban yang kutemukan di otakku selalu terlalu panjang untuk mengisi kotak-kotak kosong yang kautinggalkan di meja tamu pada kali terakhir kau menyambangi rumahku

 

Beranda, 12.23

 

—–

 

 

artdiantlazuardiii

BUCIN x CODE

Aku ingin

menerjemahkan isi hati

dari engkau

yang ku cintai

 

Sebab mencintaimu butuh

sebuah keahlian

untuk memecahkan

kodekode terumit yang

selalu saja sulit

untuk kumengerti

 

Bagai menelusuri

jejak labirin Cicada

buatku linglung tak berdaya

Pun dengan dirimu

memenuhi pikiranku

dengan banyak tanda tanya

 

Dan tekateki terbesar

dalam mencintaimu adalah:

bagaimana bisa

ku tetap mendamba?

Meski berkalikali telah

kau torehkan dalamnya luka

 

Kotabumi, 23 November 2019

 

—–

teguh_maulana2018

Menguap

Mencari celah dalam keheningan memaksa

Terkemuka angka duapuluh tiga

Simpul Gordian jadi misteri lama

Atau Cassini di kutub Saturnus Utara.

 

Semalam tidur telat lagi

Jati diri terkesan mandiri

Selesaikan masalah yang tak kunjung usai

Hingga mata sambut pagi.

 

Tatapan mulai sayu

Tak kuasa tahan rindu

Dalam napas acak ragu

Hari ini resah lesu.

 

Sekali waktu itu terjadi

Udara di otak butuh improvisasi

Tanpa sadar dirimu mengikuti

Kecuali bagi psikopat sendiri

Itu yang membedakan kita berarti.

 

Malam hari di Karanganyar,

Nov. 23, 2019

 

—–

lembayungmerah88

DAN KAU

Dan masih saja

Kau pelaku utama

Dari kepingan kepingan puzzle yang berserak di kepala

Tak kunjung tersusun

Tak kunjung terhubung

 

Dan sampai akhir cerita ini

Kau lah tersangka

Dari teka teki kosong

Yang menurun dan mendatarkan hati

Tak kunjung ada jawabannya

Tak kunjung ada yang mampu menjawab

 

Bandung, 23 November 2019

 

—–

tintanovela

-SEKUMPULAN PUZZLE-

Dengarkan aku, Tuan, hidup adalah sekumpulan puzzle. Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang ajaib agar kita mampu menjawab teka-teki semesta.

 

Aku ada atau kau yang tiada, bukan lah sekehendak kita, Tuhan lah yang Maha Berkehendak.

 

Tuan, andai saja Tuhan menjawab sebagian kecil dari doaku, mau kah kau hidup lebih lama denganku?

 

Menantikan bulan berganti bulan hingga kaktus pemberianmu melahirkan bunga kecil berwarna-warni.

 

Melewati musim berganti musim. Aku ingin melihat ubanmu tumbuh dari celah-celah rambutmu. Memenuhi seluruh ruang di kepalamu itu. Dan kita menua bersama-sama hingga di pisahkan oleh dua liang. Atau kau ingin kita bersama dalam satu liang lahat. Katakan saja.

 

Maaf. Aku sungguh terlalu banyak bicara pada Tuhan hingga lupa menyelesaikan teka-teki silang yang kau hadiahkan di hari ulang tahunku. Aku lupa harus segera menjawabnya dengan benar. Jika tidak, Tuhan yang akan menjawabnya dengan cara yang paling bijak.

 

Jika hidup adalah sekumpulan puzzle, mau kah kau menjadi bagian dari itu untukku

 

Palu, 2019

 

 

Leave a Comment