puisi hujan januari

Hari ini adalah hari terakhir di bulan Januari, bulan yang sering kali turun hujan. Sepertinya, tidak terasa hampir satu bulan kita lalui bulan pertama di tahun baru ini. Tentu banyak cerita, juga tantangan yang telah dihadapi. Nah, bagaimana dengan puisi karyamu? Kali ini kami pilihkan puisi tentang hujan di akhir Januari.

Hujan Akhir Januari

Oleh: Caroline Sambuaga

Harapan yang sering tak berbanding lurus dengan kenyataan
Harusnya kemarau saja yang datang
Walau aku membenci terik menyengat
Tapi untuk hari ini bisakah kau singkirkan saja awan hitam dari hadapanku
Biarkan langit menjadi terang benderang
Agar hujan tak menyapaku hari ini

Itulah yang dinamakan harapan yang sering tak berbanding lurus dengan kenyataan
Di penghujung Januari Tuhan menetapkan kehadiran hujan
Langit gelap
Jutaan kali tetesan air turun menyapa tanah

Aku hanya bisa terkungkung di balik jendela
Enggan berbasah ria

Hujan di akhir Januari, tak hanya meneteskan titik air dari langit
Tapi memanggil air mataku turun ikut serta
Mengundang setiap kenangan lewat cumbuan langit dan bumi
Mungkin Tuhan sedang memperkenalkanku pada makna perpisahan…

Jakarta, 29 Januari 2020

© Chesamstory

Aku Terlalu Mencintai Hujan

Oleh: S.M. Moeis

“Ketika ia datang, biarkan aku pulang kebasahan…”

Padahal dibuatnya aku tak bisa pulang
dari kerja sepanjang hari,
dilumatnya waktu istirahatku
saat raga ini ingin cepat-cepat menyentuh kasur.

Namun aku terlalu mencintai hujan.
Aku gadaikan keringku kepadanya
demi mencapai rumah
supaya lekas kutenangkan pikiran
dengan secangkir teh panas
lalu memejamkan mata
demi esok cukup stamina

Namun aku terlalu mencintai hujan.
Saat kemarau datang iba hatiku
lalu cepat aku merindu.

Ketika ia datang,
biarkan aku pulang kebasahan
demi menyambut dirinya yang turun menyentuh bumi.

Berteduhlah

Oleh: Harivani Nurwiyati

“Tidak semua perjuangan diketahui pihak yang diperjuangkan”

Berteduhlah
Aku paham kau pejuang hebat
Mampu berdiri di bawah deras hujan
Dua bahkan sepuluh jam

Aku tidak ragu fungsi hati nuraninya
Berlari mempersilahkan pejuangnya
Ke ruang paling hangat miliknya
Tanpa menunggu jatuh raga pejuangnya

Berteduhlah
Nanti kita diskusikan solusinya
Bukan soal mati hati nuraninya
Dia tidak punya jendela, wahai pejuang
Perjuanganmu takkan terlihat
Mengintip pun tidak ada celah
Tidak terlihat tegakmu olehnya
Tidak terasa tulusmu olehnya
Tidak terdengar pekikmu olehnya

Silahkan berteduh
Duduk dan istirahatkan dirimu
Bernafaslah lebih teratur
Tanpa memelukmu
Aku takan selancang itu
Hanya memberimu tempat berteduh
Aku bantu ketuk pintu kesayanganmu
Tiada hujan deras disitu
Malang dia tak acuh akan berlian setangguhmu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here